Home / Editorial / Nasional

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:26 WIB

Mengapa Tiga Jari dan Lagu Kematian Menjadi Simbol Kemarahan?

Tangan-tangan muda terangkat serempak ke udara, membentuk gestur tiga jari

JAKARTA, Swara Baswara – Sore itu, aspal ibu kota memanas. Di antara kepulan debu dan deru kendaraan yang terjebak kemacetan, ada pemandangan yang berulang kali mencuri perhatian: tangan-tangan muda terangkat serempak ke udara, membentuk gestur tiga jari.

Di Jakarta, Yogyakarta, hingga Bandung, simbol itu membentang. Digerakkan oleh aliansi mahasiswa, termasuk kawan-kawan dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) aksi ini bukan sekadar unjuk rasa biasa. Ia adalah bentuk bahasa tubuh yang berbicara ketika ruang dialog dirasa mulai menyempit.

​Bagi sebagian orang, gestur itu mungkin langsung mengingatkan kita pada adegan film fiksi ilmiah populer, The Hunger Games.

Namun, ketika ditarik ke dunia nyata dan dibentangkan di jalanan Indonesia hari ini, simbol tersebut telah bermetamorfosis.

Ia bukan lagi sekadar properti layar lebar, melainkan medium perlawanan politik yang hidup dan bernyawa.

​Ketika Fiksi Menjelma Menjadi Realitas Jalanan

​Kalau kita menengok akarnya, salam tiga jari lahir dari sebuah dunia distopia bernama Distrik 12 dalam The Hunger Games.

Mula-mula, ia adalah isyarat penghormatan, tanda simpati, dan ucapan perpisahan. Namun, seiring berjalannya cerita, gestur itu berubah menjadi lambang perlawanan sengit melawan cengkeraman kekuasaan otoriter Capitol.

​Menariknya, fiksi ini menemukan resonansi yang kuat di dunia nyata. Jauh sebelum mahasiswa Indonesia mengangkatnya hari ini, dunia internasional sudah lebih dulu melihat bagaimana tiga jari di udara menjadi simbol perlawanan tanpa suara.

Kita menyaksikannya di Thailand selepas kudeta militer 2014, atau saat para pemuda Myanmar turun ke jalan pada 2021 dengan kalimat yang begitu membekas:

“Ketika mereka menyerang kami, kami tidak punya apa-apa. Kami tidak punya tongkat, tidak punya pisau. Yang kami punya hanyalah nyanyian dan salam tiga jari kami.”

​Kini, narasi kepedihan dan perlawanan itu bergema di bumi pertiwi. BEM UI dan berbagai elemen pemuda membawa simbol tersebut ke ruang publik untuk menyuarakan keresahan yang sama: penolakan terhadap gejala kakistokrasi, cengkeraman oligarki, hingga berbagai kebijakan yang dinilai mencederai kebebasan sipil.

​Tiga Pilar yang Menghidupkan Gerakan

​Dalam penjelasannya kepada publik, BEM UI merangkum esensi tiga jari itu ke dalam tiga nilai fundamental yang sarat sejarah: liberté, égalité, fraternité—kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan. Tiga kata yang dulu mengobarkan Revolusi Prancis, kini hidup kembali di trotoar-trotoar kota besar kita.

​Pertama adalah kebebasan. Ini tentang hak mendasar setiap warga negara untuk bersuara, mengkritik penguasa, dan menentukan arah bangsanya tanpa dihantui rasa takut akan intimidasi.

Kedua adalah kesetaraan, pengingat bahwa di hadapan hukum dan negara, tidak ada manusia yang lebih tinggi dari yang lain.

Dan yang terakhir adalah persaudaraan, sebuah lem perekat solidaritas yang merajut ribuan mahasiswa dari berbagai latar belakang kampus dan golongan untuk berjalan beriringan demi tujuan yang sama.

​Ketiga nilai inilah yang membuat aksi di Bundaran HI dan berbagai titik lainnya terasa begitu padu. Mereka tidak sedang membawa kepentingan golongan sempit, melainkan menyuarakan nurani kolektif.

​Gema “The Hanging Tree” dan Nyanyian Perlawanan

​Menariknya, gelombang protes kali ini juga diiringi oleh jejak audio yang khas. Di linimasa media sosial hingga pengeras suara di lapangan, lagu “The Hanging Tree” yang juga berasal dari semesta The Hunger Games yang kerap diputar mengiringi video-video aksi demonstrasi.

​Bagi yang mengikuti cerita tersebut, lagu yang dilantunkan oleh karakter Lucy Gray Baird dan Katniss Everdeen ini jauh lebih dalam maknanya ketimbang sekadar balada tentang hukuman gantung. Ia adalah potret tentang ketakutan, kepedihan atas pengorbanan, sekaligus jeritan perlawanan terhadap penindasan sistemik.

Ketika lagu ini disandingkan dengan dokumentasi unjuk rasa hari ini, ia membawa pesan psikologis yang kuat bahwa ketidakadilan yang dipelihara pada akhirnya akan melahirkan kemarahan yang dirawat bersama-sama.

​Menatap Demokrasi di Persimpangan

​Gelombang aksi yang memadati jantung ibu kota pada pengujung Oktober ini semestinya dibaca oleh para pemangku kebijakan bukan sebagai gangguan ketertiban semata, melainkan sebagai cermin.

​Ketika anak-anak muda kita harus meminjam simbol-simbol dari cerita fiksi untuk menggambarkan realitas politik di negeri sendiri, itu adalah tanda bahwa ada yang perlu diperbaiki dari cara kita merawat demokrasi.

Akhirnya, demokrasi sejati bukan hanya tentang prosedur pemilu, melainkan tentang bagaimana keadilan dan kesejahteraan benar-benar dirasakan oleh rakyatnya.

​Dan selama ketimpangan itu masih ada, selama itu pula gema perlawanan, baik lewat gestur tangan di udara maupun senandung di linimasa akan terus menemukan jalannya untuk bergema.

Ditulis oleh Redaksi

Belum ada informasi tentang penulis ini.

Share :

Baca Juga

Nasional

Polisi Selidiki Dugaan Intimidasi oleh Ajudan Gubernur Kaltim

Nasional

Karhutla Kepung IKN, Istana Garuda dan Masjid Negara Terselimut Asap

Nasional

Kasus BNPB, KPK Sita Uang Tunai hingga Aset Kripto

Nasional

Krisis Karhutla Meluas, PB PMII Desak Status Bencana Nasional

Nasional

Akui Tindakan Arogan, Ajudan Gubernur Kaltim Sampaikan Maaf

Nasional

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Resmi Disahkan, Ini Pokok Aturannya

Kalimantan Selatan

Terlibat Korupsi Rp5,65 Miliar, Kepala BKSDA Kalsel Ditangkap Kejati

Nasional

BNPB Laporkan Penanganan Darurat Bencana di Berbagai Wilayah